chik




Life Goes On. You've got to be tough to win. In Learning you will teach and in teaching you will learn.


Au nom d'Allah. Le Tout Misèricordieux, Le Tres Miséricordieux



Soredewa, antagata wa Ou no onkei no dore wo uso to iunoka?

Lequel donc des bienfaits de votre seigneur nierez-vous? (QS: Ar-Rahman: 18)


Glorifie le nom de ton Seigneur, le Très Haut. Celui Qui a crée et agencé harmonieusement.

Shikou no okata, anata no ou no gyomei ni oite. karewa souzoshi, totonoe chouwa saseru okata. (QS 87: 1-2)


Allah ga ningen ni ataerareru donna jihi mo habamareru koto wa nai. Mata Kare ga habamu nanigoto mo, sore wo tokihanasu mono wa nai. Hontouni Kare wa Iryoku Narabinaku Eimei de arareru.

Ce qu'Allah accorde en miséricorde aux gens, il n'est personne à pouvoir le retenir. Et ce qu'Il retient, il n'est personne à le relâcher après Lui. Et c'est Lui le Puissant, le Sage.

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS 35:2)



Art:©Hadi

   

<< May 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31







Ngintip punya:



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, January 22, 2007
Kangen?

Assalaamu'alaykum wr wb, all...

Maaf, dah lama ga nulis di Chik. Sekarang aku seringan nulis di www.velobleu.multiply.com. Berkhianat? Yaaa... gimana, yaaa... upload foto di sana lebih gampang, sih... So, kalo kangen tulisanku, silakan berkunjung di velo. C ya there!!


Posted at 08:07 am by chik
Make a comment  

Monday, October 30, 2006
Ian Dan Sarung Tangan

Sarung tangan, salah satu perlengkapan bersepedaku. Entah kenapa, daya tarik sarung tangan itu sangat kuat bagi Ian. Begitu melihatnya nganggur, dia pasti pinjam. Entah buat mainan tongkat-bergaya seperti jagoan kungfu-atau main sepeda juga. Kadang aku harus memaksanya mencari di rumah, karena aku mau pakai tapi si sarung tangan tak terlihat di rak.
"Udah dikembaliin, kok!"
"Mana? Kalau udah kan ada di sini. Hayo, cari dulu!"
Tak lama Ian datang dengan sarung tangan biruku.

***
Greeek!
Ian membuka pintu rumahku. Ransel besar nemplok di punggung. Tampaknya siap mau pergi.
"Bulek, aku pinjem sarung tangannya, ya!"
"Mas Ian keren amaat! Mau ke mana?"
"Ke Ancol. Ke ice world. Makanya aku pinjem sarung tangan. Kan dingin. Nanti dipinjemin jaket, sih, di sana..."
"Memang ga sekalian sarung tangannya?"
"Enggak. Cuma jaket!"
"Ya udah, pake aja. Jangan sampai hilang, yaaa!"
"Iya, bereees!"

Dipakainya sarung tangan itu, lalu pulang. Tapi, tak berapa lama Ian balik. Sarung tangan dilepasnya, ditaruh di rak.
"Lho? Kok ga jadi? Ga boleh, ya?"
"Kasian, deh... ga boleh..." ledek kakakku.
Ian cuma diam. Mulutnya cemberut. Duduk di kursi, diam seribu bahasa. Wajahnya memerah. Tangannya mengusap-usap mata. Tangisnya tertahan. Segala macam pertanyaan hanya dijawab dengan gelengan dan anggukan.

"Mas Ian mau ke mana?" Ibuku yang keluar bertanya.
"Ice world?" jawabannya lirih. Tangan masih tetap mengusap-usap mata.
"Matanya kenapa, sih?" tanya Ibu. Diam.
Kucolek-colek ibu, supaya tidak menanyakan soal mata. Ibu yang belum tahu situasi, tetap bertanya soal mata.
"Hei, matanya kenapa? Belum mandi, ya?"

"Bu, Lagi nangis..." Bisikku.
"Ooo..." akhirnya pertanyaan mata pun berhenti.
Aku ajak Ian ngomong hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan sarung tangan. Akhirnya, Ian bisa menguasai diri. Masih dalam diam, berdiri lalu pulang.

Hihihihi... lucu bangeeet!!

<2006/10/30-chik>


Posted at 09:33 am by chik
Comments (2)  

Tuesday, October 10, 2006
Aku Dan Bonus

Sejak Mas Sony biruku rusak, yang ada di benakku adalah, "Beli kamera lagi, beli kamera lagi, beli kamera lagi!" Tapi, tentu saja ga semudah beli bengbeng di koprasi. Perlu nabung dulu, sebelum kamera baru masuk dalam daftar barang milikku.

Sebenarnya, bukan berarti aku ga punya kamera sama sekali. Terbiasa dengan kamera digital meski cuma yang mungil--seperti pemiliknya Tongue--bikin males kalau harus beli film. Qeqeqe...

Itu sebabnya, kalo sedang butuh, akhirnya aku pinjam kamera Tita, adik Ivan. Untung saja ada yang berbaik hati ngasih pinjam. Tapi, kan repot kalau pinjam melulu! Apalagi, ada tambahan racun; "Guung, kalo nanti lo dah punya kamera baru, kita jalan-jalan ke masjid ini, yuuuk!" kata Tari waktu dapat mail tentang masjid cantik di Depok.

Akhirnya kuputuskan. Ada bonus, ada kamera!!

***

Sepeda itu menari-nari di mataku. Weeks! Sepeda bisa nari? Musti dimiliki!! Racun sepeda yang ditularkan Joe membuat daftar barang yang aku ingin beli jadi bertambah. Kamera, USB yang bisa nyanyi di kuping (USB hadiah dari Ivan tiba-tiba rusak), dan sepeda. Hyaaaa...! Mana yang harus jadi prioritas, niiih!?

"Beli sepeda aja dulu. Kalo dah nyepeda, kan ada uang yang dihemat. Uang transport utuh. Dalam waktu 6 bulan, kamu bisa beli kamera sama MP3 player." Joe gigih meracuniku beli sepeda.

Entah beli di mana racun itu. Ampuh banget!! Menghitung-hitung bonus yang akan diterima di bulan Maret (Hehehe... apal banget kapan bonus turun), akhir Februari, aku beli sepeda. Si Velobleu.

Sesaat, aku terlupa soal kamera.

***

"Mampir dulu di poins, yuk. Nir mau beli kamera." ajak Joe suatu hari sepulang kerja.

Kamera! Yang terlupakan kembali merasuki angan-angan. Apalagi, liat Sony seri T yang mungil dan tipis. Lalu seri W yang berkesan gagah. Selagi Nir asyik mencari-cari, aku berdiri mematung di depan meja display Sony. "Enggak! Enggak! Belum waktunya!" Perlahan, aku menjauh dari kamera. Meski tanpa sadar beberapa kali langkahku kembali ke sana.

***

"Joe, mo nemenin cari kamera ga?" Juni datang, bonus pun tiba. (Asyik, ya! Bonus melulu ^_^)
"Boleh. Di mana?"
"Poins aja. Deket."

Jadilah kembali menjelajah Poins. Incaran pertama, Sony. Si tipis mungil yang enak dibawa ke mana aja. Bingung antara seri T dan W, akhirnya malah tambah bingung setelah Canon PowerShot a700 muncul memamerkan fitur-fiturnya! Hyaduh!

"Kalau ini bla bla bla..."
"Yang ini bla... bla... bla..."

"Tapi, ini kan enak, Kecil. Enteng dibawa ke mana-mana." Bersikeras dengan Sony.
"Ya udah, kalau memang itu yang dicari, yang itu aja."
"Ng... tapi ini juga bagus, yaa..."
"Huahahahaha..."

"Kalau beli ini, bisa pakai bonusnya untuk beli yang lain, Mba... bla, bla bla..." Mbak SPG ikutan menebar racun.
"Hmm... bentar, Mbak. Mikir dulu." Kutinggalkan counter
sejenak.

"Iya, deh. Yang Canon!"
"Yakin, nih?"
"Iya!"

"Mbak, pake bonus cash back, bisa beli ini jadi setengah harga." SPG lain meracuniku saat aku melihat-lihat MP3 player.
"Aduuuh! Si Embak kok ikutan ngeracunin, gini, sih?"
"Mumpung ada program ini, Mbak..."
"Hmm... coba liat yang itu, deh..."
Akhirnya, lihat sana, lihat sini...
"Yang ini aja, deh."

Ternyata bulan Juni bukan hanya bulan bonus, tapi juga bulan keracunan. Aku pulang bawa kamera dan MP3 player.

Tweeeeww!

***

Kamera baru, tasnya musti yang bagusan! Aku harus lebih apik, supaya nasib Sony biru ga menimpa Mas Canon. (Jadi inget PR biola yang sampai saat ini belum juga kubisa. Canon in D major. Xixixixi...)

Untung, adikku punya tas kamera yang bagus. Empuk. Pokoknya bagus, deh. Sementara, aku pakai itu dulu. Toh, dia lagi ga punya kamera. "Suatu saat nanti, baru beli, biar ga tergantung sama orang!" tekadku.

Bulan berlalu, keenakan pake tas kamera itu. Sampai suatu hari aku berantem sama dia. Yaaa... namanya juga kakak adik. Sesekali berantem, wajar, 'kan? (Pembelaan diri, niiih!)

Tas kamera tiba-tiba diambil. Si Mas Canon tergeletak telanjang di atas lemari buku.
"Huh! Biarin aja diambil! Bisa beli ini!" teriakku kesal
dalam hati.

***

"Besok ada acara?"
"Ga. Ngaji juga libur." Yaa... menjelang awal puasa,
ngaji memang selalu diliburin.
"Ke Grapari, yuk!"
"Boleh! Mumpung libur, aku mo aktifin mobile banking."

Jadilah, sabtu itu ke Grapari. Tapi, ternyataaa...
"Harus registrasi dulu di ATM, nanti nomor registrasinya
baru dibawa ke sini," begitu penjelasan petugas. Haaaah! Tegaaa bangeeet! Dah dibela-belain didatengin meski jauh, ternyata... sia-sia!? Padahal, mo ke Grapari
lagi musti nunggu ngaji libur!!
"Huuuh! Udah, ah! Aku ga akan aktifin! Biarin aja pake
cara lama. Jalan ke ATM!" sungutku.

"Trus mo ke mana?"
"Hmm... cari tas kamera, yuk!"
"Ayo. Di mana?"
"Yang deket sini, Pelangi. Ada, ga yaa...?
"Kita coba aja."

Keliling-keliling di Pelangi, ternyata yang dicari ga ada.
"Coba ke PS, yuk."
"Ayo."

Perjalanan dari mall satu ke mall lain ternyata sia-sia. Di PS maupun STC, ga ada tas yang dicari. Cape, akhirnya pulang.

"Joe, cobain ke poins, yuk!" Ini ga mengubah rute perjalanan pulang, sebab Poins ada di sebrang rumah.
"Hmm... boleh!"

Tujuan utama sudah jelas, lantai tempat beli kamera. Tapi, tepat di depan eskalator toko tas memamerkan tas kamera.
"Ini ada. Tapi, modelnya cuma satu ini? Eh... tuh di rak
bawah ada. Liat dulu, yuk!"

Tas mungil dengan strip warna oranye. Lucu, sih. Tapi, kok aku masih lebih suka tas seperti milik adikku.
"Mas, tokonya tutup jam berapa?" tanyaku.
"Sebentar lagi, Mbak."
"Yaa... agak lama aja, deh. Saya mau liat ke atas dulu.
Sapa tahu nanti balik ke sini."
Si mas cuma tersenyum.

Kurang sreg, akhirnya toko di atas didatangi juga. Ya! Kali ini ada hasilnya. Tas yang sama persis punya adikku ada. Dicoba-coba... tapi, kok, rasanya malah bagusan si strip oranye. Tampak lebih mungil, tapi HP bisa diselipin.
"Yang tadi aja, yuk!" putusku.
"Hahahaha..."

Kembali ke toko tadi, dari jauh tampak si Mas penjaga sedang berjongkok mengunci pintu dari luar.
"Yaaa... dah tutup!" Spontan, aku lari menghampirinya.
Tapi, ternyata si Mas masuk lagi. Aku ketuk-ketuk pintu,
lalu melongok ke dalam.
"Mas, dah mau pulang, ya? Kenapa ga nungguin saya? Masih
boleh ga tas yang tadi?"
Si Mas cuma tersenyum. "Boleh."
"Kenapa balik lagi, mas?"
"Ada yang ketinggalan."
"Waaa... untung aja ada yang ketinggalan!" seruku
senang.

Sekarang, Mas Canon sudah berbaju hitam dengan strip oranye. Si Mas ini lebih pandai dari Mas Sony biruku. Aku yang terbiasa pakai kamera asal jepret jadi, masih belum terbiasa. Dan jelas, males mempelajarinya. Sampai pernah ada komentar,
"Sebenarnya kamera ini bagus, sayang aja..."
Hihihi... aku tahu lanjutan kalimat itu.
"Sayang, pemiliknya payah!"

Biar aja, deh. Yang penting tasnya keren. ^_^
LHO!?

<2006/10/10-chik yang menanti janji teman-teman yang katanya mo ngajarin moto>


Posted at 05:34 pm by chik
Comments (3)  

Thursday, October 05, 2006
Pendiam itu pinter?

Ba'da magrib lalu suara Tristan di ruang bawah memaksaku meninggalkan kesibukan di kamar. "Bulek Niniiiiiiiing!!" mungkin lengkingannya mencapai 8 oktaf.

"Kok ada suara anak kecil, yaaa... Siapa, sih...? Mana, yaa...?" kuturuni tangga, sambil berakting mencari-cari sumber suara. Kulongok kolong kursi, ruang tamu, juga belakang TV. "Kok nggak ada. Mungkin  Bulek salah dengar." aku pun duduk di kursi dekat TV, mengacuhkan Tristan yang melihat ke arahku.

"Akuuuu...!" katanya tertawa geli sambil nunjuk-nunjuk dadanya.
"Ooooh... tadi suara Ade, ya...?"
"Hahahaha..."
"Bulek, ini apa?"
jarinya menunjuk boneka yang dipeluknya.
"Apa, sih, itu?"
"Kura-kura!!"
"Oooh... kura-kura..."
"Bulek, coba cari dikamus visual, ada ini apa enggak...?
"Kamusnya mana?"
"Ituuu..." diabilnya kamus tebal, lalau duduk di lantai, mulai mencari-cari gambar kura-kura.

Nggak berapa lama, Ian datang menyusul. Sambil memainkan boneka bola, duduk di depan TV. Bola dilempar-lempar. Lalu, nimbrung lihat kamus. Ade yang bosan, berdiri...
Diambilnya buku ilmuwan Jepang Masaru Emoto "The True Power Of Water.'" Dibuka-buka. Setiap keterangan gambar dibacanya keras-keras.
"Hado air yang sudah diberi ucapan terima kasih dan cinta..."

"Ck... payah, nih anak. Dia nggak sepinter aku waktu kecil." ucap Ian tiba-tiba.
"Memang waktu kecil Mas Ian pinternya gimana?" tanyaku sambil nahan senyum.
"Waktu kecil aku 'kan pendiem, nggak secerewet dia."
"Ooh, jadi pendiem itu pinter, ya...?" gelak tawa tak bisa kutahan.
"Memang, sih, Mas... waktu kecil dulu Mas Ian susah ngomong. Sampai-sampai Ibu Aning takut Mas Ian nggak bisa ngomong..."

Hmm...Pendiam itu pinter, ya?

<2006/09/05-chik>


Posted at 05:34 pm by chik
Comment (1)  

Wednesday, September 13, 2006
Ocha N Dars

Akhirnya, hari yang dinanti-nanti tiba juga. Tanggal 9 September! Apa istimewanya? Hmm... ga, sih... cuma... Lia mudik dari Jepang. Trus... Hmm... hehehehe... akhirnya kiriman ocha dan dars akan dataaaang!

Sempet bingung, sih... karena hari kedatangan Lia sama dengan hari Offroad bareng IM2. Hyaa... gimana ngatur waktunya, supaya bisa jemput Lia di bandara. Itu kesempatan paling bagus, soalnya Lia bakal ke Riau dan Bandung buat cari data. Bakalan susah nangkepnya!

Kalau liat time schedule offroad, sih... tampaknya bisa deh, pulang dari Lido langsung ke bandara. Yaaa... sempet, lah, istirahat di rumah kira-kira sejam, sebelum jalan ke Cengkareng. Tapi, ternyataaa... namanya jalan-jalan... pasti deh waktu mulur. Jam 18.00 aja, masih di jalan tol! Padahal pesawat Lia landing jam 19.00! Kebayang, dong... mustahilnya...

Untungnya, aku dah bisa menduga, waktu liat jam 13.00 truk belum juga datang menjemput. So, aku SMS suami Lia, kensel kepergian ke bandara, dan bikin janji ketemu hari Minggu, di Bogor.

***
Ga rugi, deh... mbela-mbelain ke Bogor hari minggu siang... habis, ada ocha n Dars... my fave dark chocolate!

Hmm... sayang, Ivan cuma kirim dikit. Hihihihi...
Van, lain kali kalo ngirim, jangan nanggung gitu, doong! Ocha dua dos, Dars minimal lima.  OK!

Arigatou Ivan Chan, arigatou Lia Chan...
Hontouni Oishiii
!

<2006/09/13-chik>


Posted at 09:28 am by chik
Comments (2)  

Tuesday, August 15, 2006
Bengkel cuci sepeda

Sepulang kondangan nyepeda minggu kemarin (lihat Velobleu), aku ikut rombongan ke formula. Sepeda Inu mo ganti rante. Kalo dah hobi memang susah menahan diri, kali yaaa... ternyata yang sepedanya diutak-atik ga cuma Inu. Joe ikutan ganti rem, Nir ma Iie ganti sadel... Kang Supri, mbantuin masangin rem ke sepeda Iie. Tinggal aku dan Bayu yang duduk manis menunggu, sampe bete karena bosen!

Sekitar Jam 5, akhirnya semua selesai. Pulang! Haah... itu yang kutunggu dari tadi. Cape sehabis nyepeda siang bolong! Di tengah jalan, satu per satu misah. Iie memisahkan diri duluan. Nir, Inu, Kang Supri dan Bayu, belok ke arah rempoa, sementara aku dan Joe lurus.

Sampe di rumah, Anto sedang nyuci motor.
"Asyiiiik! To, sekalian nitip nyuci sepedaaaa!" teriakku gembira.
"Dah sore, ah! Besok aja!" memang sih, saat itu sudah jam 17.30.
"Yaaah... nanggung. Sekalian aja, deh..."
"Tau gini, tadi ga nyuci, deh!" Anto ngedumel.
"Mau ga?"
"Ya udah, sini!"

Baru juga sepeda disiram, Ian muncul dari rumahnya. Telanjang dada. Tampaknya, seharusnya dia mandi... tapi malah kabur keluar.

"Kok ga pake baju? Mas bantuin Om Anto nyuci motor, tuh!"
"Boleh!?"
"Eh, cuciin sepeda Bulek juga boleh."
"Sini! Sini! Aku cuciin! Tapi bayar, ya! 5.000!"
"Iya, deh!"

Ian pun mulai menyemprotkan air ke sepedaku.
Eyangnya yang menyusul keluar senyum-senyum mendengar nego itu. Gak lama, ibu dan bapaknya pulang dari entah ke mana.
"Bu Aning, aku nyuciin sepeda Bulek Nining, dibayar 5000!"
"Boleh nyuci sepedaku juga?" tanya Ian ke bapaknya.
"Nyuci sepeda bulek dulu, Mas... baru sepeda sendiri!"
"Iya, nyuci punya Bulek dulu, tuh..." kata ibunya.
"Iya! Beres, deh"

Dibantu Reza, sepupunya, Ian mengeluarkan sepedanya. Lalu, keduanya mulai mencuci sepeda biruku.
"Ng... Bulek, ongkosnya jadi 6.000 deh. Kan berdua!"
"Iya, boleh. Tapi yang bersih, lho! Kalau ga bersih, dipotong 500!"
"Beres!"

"Bulek, jadi basah! Sana... biar aku aja!" usir Ian, waktu aku bantu megang selang air.
"Iya, deh...Bulek nonton aja! Seneng, deh, punya keponakan baik begini!"
"Ian, aku yang sebelah sini, kamu di sana!" Reza mbagi tugas.
"Yah, kok ga ilang?" Reza sibuk menggosok rak sepeda.
"kenapa? Coba lihat!?"
"Yaa... pokoknya kalau ga bersih, potong 500."
"Bersih, deh!" Keduanya lalu menggosok lagi dengan semangat.

"Habis ini, aku bantuin nyuci sepeda Ian, dapet 3.000 lagi, deh!" gumam Reza.
"Hahahaha...berarti, Mas Ian ga dapat apa-apa, doong!"
"Reza pinter!"
"Ga! Aku nyuci sendiri aja!"

Gosok sana sikat sini, akhirnya sepedaku bersih. Giliran sepeda Ian.
"Dah, Bulek, Mana bayarannya?"
"Iya, iya... Bulek bayar, Bulek ga akan kabur? Sabar, dooong!"
"Cuci aja dulu sepeda Mas Ian."
"Udah aja, deh! Segini aja!" nyuci sepeda sendiri, Ian asal-asalan.

"Nih, Mas. 6.000, yaa!"
"Asyiiik! Makasih, ya Bulek!"
Si Bapak cuma ketawa-ketawa liat Ian gembira dapat honor nyuci sepeda.
"Seneng, deh, bisnis sama Mas Ian dan Reza. Buka bengkel cucinya tiap hari Minggu, ya!" teriakku waktu Ian masuk ke rumahnya.

<2006/08/14-chik>


Posted at 11:35 am by chik
Comments (2)  

Tuesday, August 01, 2006
"Udah Azan Blom?"

Turururut!
"Assalaamua'alaykum!" sapaku, setelah liat sapa yang bikin HP
bunyi.
"Ning, udah azan blom?"
"Haah... lo nelepon cuma mo nanya azan? Gue 'kan bukan muazin!"
"Habis, dari sini ga kedengeran. Kan lo punya jam yang bunyi tiap waktu solat..."
"Iya, sih... tapi... aneh, deh lo!"
"Hehehe... jadi, dah azan belum?"

Itu Titi, suatu ketika dulu. Pertanyaan azan itu ga cuma sekali dia lontarkan. Berkali-kali kuprotes, tetep aja nggak ngaruh.

Twiiwiiit! Atiek, sahabatku, sms.
"Ule ga lupa, kan? Sekarang udah isa belum?"
Pertanyaan tentang azan lagi. Ini orang kedua yang suka tanya azan
padaku. Yaaa... ok, lah... dari ruang kerja mereka azan ga kedengeran... tapi, tetep aja aneh, kok tanyanya ke aku...
"Ga. Azan bentar lagi." kujawab juga.
"Nanti kalo dah azan miskol, ya..."

SMS terakhir masuk, terdengar azan dari masjid di depan kamarku. Kutelusuri phonebook. A... Atiek... dial, ok... Di satu sudut kota Jakarta sana, seseorang solat isya setelah terima miskol dariku...

<2006/08/01-chik>


Posted at 10:29 am by chik
Comments (3)  

Tuesday, July 25, 2006
OCHA

Pertama kali nyicipin ocha, teh hijau Jepang, komentarku, "Weeeks! Apaan, nih?! Enakan teh jawa yg pait itu, deh." Tapi, itu dulu... Sejak suka disuruh ke Jepang, tau-tau aja aku jadi suka ocha. Tiap kali ditanya sama orang penerbit yang kudatangin, "Nanikaga nomitaindesuka? Mo minum apa?" Jawabanku pasti, "Ocha." Bahkan, saat ditawari makanan penutup, aku pilih es krim ocha. Syeeedaaaap!!

***

"Peceren ngono kok diombe!" kata teman kantorku waktu melihatku menyeduh ocha.
"Peceren apa, sih?"
"Air comberan."
"Idih, jahat! Biarin, enak, kok. Cobain deh!"
"Emoh!"

***

"Ng... oleh-olehin gue ocha, dooong... Ga usah beli. Jatah yang dari hotel aja..." pesanku kalau kebetulan teman lain yang ditugasin ke Jepang.
"Sip! Itu sih gampang!"

***
"Van, gue habis berjemur. 5 menitan, kali."
"Idih. Di mana?"
"Di luar ruangan. Di gedung ini, ada tempat yang panas di luar
ruang. Hmm... soalnya, kayaknya lantai ini ga niat dibuat. Jadi,
deket ma toren."
"Hahaha. AC-nya dingin, ya?"
"Dingin banget! Dulu gue pernah ke dokter, bilang ga kuat AC, jadi
sering masuk angin. Ma dokter disuruh sering ke luar ruangan, kena matahari. Cuma, dulu di gedung lama susah, kalo mo berjemur. Ga
pernah gue kerjain. Sekarang bisa.
"Oo...hahaha."
"Ini, pundak gue dah ngilu. Ocha panas enak, tapi tinggal satu.
Oleh-oleh Nina pas dia ke Book Fair kemarin."
"Jadi pingin cepet Desember, lo bawain ocha."
"Hihihihi..."

<2006/07/06-chik>


Posted at 12:19 pm by chik
Comments (4)  

Monday, June 12, 2006
Rumah Baruku

"Ning, coba ini. Risau Gerimis. enak deh pake multiply."

"Lo dah buat duluan..."

"Sabtu nyobain. Tapi masih belom ngerti banyak. Datte baru bisa posting foto doang. Ayo bikin multiply. Kan foto lo bagus-bagus. Judulnya bersepeda ke kantor. Sapa tau banyak yang terinspirasi bersepeda, jadinya Jakarta ga macet."

"Foto bersepeda gue, bukan gue yang bikin. Ga seru."

 

"Gue mo bikin id multiply. Kayak dulu, waktu blogdrive, ngeces liat punya lo. Chik dah ada yang pake di multiply. Hik.Ganti id jadi velobleu."

"Apaan tuh artinya? Woi jangan yang susah-susah!"

"Sepeda biru. Kan nanti juga lo bikin link Ga usah ngapal."

"Oh, iya."

"Isinya apa, yaaa... hihihi..."

"Hihi. foto dulu yang penting. Foto lo di atas sepeda jadi mark."

"Iya. Lagi upload. Lama."

 

Sepanjang hari itu, kami ngobrol tentang Multiply. Sampai akhirnya tiba jam pulang.

"Pulang. Assalaamu'alaykum wr wb."

"Ok. Ati-ati. Waalaikum salam wr wb."

 

Nama rumah baruku itu  Velobleu.

Isinya... qeqeqe... tentu saja masih kosong. Tapi, kalo mau liat foto, ada dua di sana...

 

<2006/06/12-chik> 


Posted at 10:51 am by chik
Make a comment  

Friday, June 02, 2006
"Sabar, Bulek... sabar..."

"Buleeek, aku mau belajar kamus visual, dong!"
"Ayo, Bulek... ambilin kamus visual..."
"Nanti, ya... kan Bulek lagi makan. Sabar, yaaa..."
"Yaaah... aku mau sekarang... ayo, dong, Bulek..."
"Ade, sini... denger. Bulek sedang apa?"
"Makan."
"Jadi, Ade harus belajar sabar. Tunggu dulu, ya. Sini, duduk yang manis."

***

"Bulek, aku mau liat sains!" akhirnya Tristan berhasil mengucapkan sains, setelah berkali-kali selalu bilang sanis.
"Yang mata rusak, Bulek..." Kubuha halaman kamus sesuai keinginannya.
"Ini miopi...kalau bayangan jatuh di depan retina, berarti mata rusak..." ocehnya meniru seperti apa yang kejelaskan sebelumnya.

"De, nyannyi dulu, dong..." selaku. Dah lama ga dengar dia nyanyi.
Cuek, Tristan masih buka-buka kamus.
"Ade, kalau diajak ngomong denger, dong. Ayo. nyanyi dulu.." Masih cuek.
"Adee... nyanyi, dooong..."
"Sabar, Bulek, sabar... Bulek, niiih... sabaaar..."
Haaah!?

Beberapa menit berlalu.
"Bulek, sekarang aku mau liat kemasyarakatan!"
"Ga, ah! Nyanyi dulu. Kalau ga, Bulek ga mau bukain."
"Yaaah... Bulek..."
"Nyanyi dulu..."
Lalu,
"Izinkan aku membuktikan inilah kesungguhan rasa. Izinkan aku menyangiiimuu... Sayangku... ooooo, dengarkanlah... isi hatiku... Cintaku... oooo... dengarkalanlah isi haatikuuu ..."
Suranya melengking. Urat lehernya sampai mengeras.

<2006/06/02-chik>


Posted at 09:37 am by chik
Make a comment  

Next Page