Ba'da magrib lalu suara Tristan di ruang bawah memaksaku meninggalkan kesibukan di kamar. "Bulek Niniiiiiiiing!!" mungkin lengkingannya mencapai 8 oktaf.
"Kok ada suara anak kecil, yaaa... Siapa, sih...? Mana, yaa...?" kuturuni tangga, sambil berakting mencari-cari sumber suara. Kulongok kolong kursi, ruang tamu, juga belakang TV. "Kok nggak ada. Mungkin Bulek salah dengar." aku pun duduk di kursi dekat TV, mengacuhkan Tristan yang melihat ke arahku.
"Akuuuu...!" katanya tertawa geli sambil nunjuk-nunjuk dadanya.
"Ooooh... tadi suara Ade, ya...?"
"Hahahaha..."
"Bulek, ini apa?" jarinya menunjuk boneka yang dipeluknya.
"Apa, sih, itu?"
"Kura-kura!!"
"Oooh... kura-kura..."
"Bulek, coba cari dikamus visual, ada ini apa enggak...?
"Kamusnya mana?"
"Ituuu..." diabilnya kamus tebal, lalau duduk di lantai, mulai mencari-cari gambar kura-kura.
Nggak berapa lama, Ian datang menyusul. Sambil memainkan boneka bola, duduk di depan TV. Bola dilempar-lempar. Lalu, nimbrung lihat kamus. Ade yang bosan, berdiri...
Diambilnya buku ilmuwan Jepang Masaru Emoto "The True Power Of Water.'" Dibuka-buka. Setiap keterangan gambar dibacanya keras-keras.
"Hado air yang sudah diberi ucapan terima kasih dan cinta..."
"Ck... payah, nih anak. Dia nggak sepinter aku waktu kecil." ucap Ian tiba-tiba.
"Memang waktu kecil Mas Ian pinternya gimana?" tanyaku sambil nahan senyum.
"Waktu kecil aku 'kan pendiem, nggak secerewet dia."
"Ooh, jadi pendiem itu pinter, ya...?" gelak tawa tak bisa kutahan.
"Memang, sih, Mas... waktu kecil dulu Mas Ian susah ngomong. Sampai-sampai Ibu Aning takut Mas Ian nggak bisa ngomong..."
Hmm...Pendiam itu pinter, ya?
<2006/09/05-chik>