Sejak Mas Sony biruku rusak, yang ada di benakku adalah, "Beli kamera lagi, beli kamera lagi, beli kamera lagi!" Tapi, tentu saja ga semudah beli bengbeng di koprasi. Perlu nabung dulu, sebelum kamera baru masuk dalam daftar barang milikku.
Sebenarnya, bukan berarti aku ga punya kamera sama sekali. Terbiasa dengan kamera digital meski cuma yang mungil--seperti pemiliknya
--bikin males kalau harus beli film. Qeqeqe...
Itu sebabnya, kalo sedang butuh, akhirnya aku pinjam kamera Tita, adik Ivan. Untung saja ada yang berbaik hati ngasih pinjam. Tapi, kan repot kalau pinjam melulu! Apalagi, ada tambahan racun; "Guung, kalo nanti lo dah punya kamera baru, kita jalan-jalan ke masjid ini, yuuuk!" kata Tari waktu dapat mail tentang masjid cantik di Depok.
Akhirnya kuputuskan. Ada bonus, ada kamera!!
***
Sepeda itu menari-nari di mataku. Weeks! Sepeda bisa nari? Musti dimiliki!! Racun sepeda yang ditularkan Joe membuat daftar barang yang aku ingin beli jadi bertambah. Kamera, USB yang bisa nyanyi di kuping (USB hadiah dari Ivan tiba-tiba rusak), dan sepeda. Hyaaaa...! Mana yang harus jadi prioritas, niiih!?
"Beli sepeda aja dulu. Kalo dah nyepeda, kan ada uang yang dihemat. Uang transport utuh. Dalam waktu 6 bulan, kamu bisa beli kamera sama MP3 player." Joe gigih meracuniku beli sepeda.
Entah beli di mana racun itu. Ampuh banget!! Menghitung-hitung bonus yang akan diterima di bulan Maret (Hehehe... apal banget kapan bonus turun), akhir Februari, aku beli sepeda. Si Velobleu.
Sesaat, aku terlupa soal kamera.
***
"Mampir dulu di poins, yuk. Nir mau beli kamera." ajak Joe suatu hari sepulang kerja.
Kamera! Yang terlupakan kembali merasuki angan-angan. Apalagi, liat Sony seri T yang mungil dan tipis. Lalu seri W yang berkesan gagah. Selagi Nir asyik mencari-cari, aku berdiri mematung di depan meja display Sony. "Enggak! Enggak! Belum waktunya!" Perlahan, aku menjauh dari kamera. Meski tanpa sadar beberapa kali langkahku kembali ke sana.
***
"Joe, mo nemenin cari kamera ga?" Juni datang, bonus pun tiba. (Asyik, ya! Bonus melulu ^_^)
"Boleh. Di mana?"
"Poins aja. Deket."
Jadilah kembali menjelajah Poins. Incaran pertama, Sony. Si tipis mungil yang enak dibawa ke mana aja. Bingung antara seri T dan W, akhirnya malah tambah bingung setelah Canon PowerShot a700 muncul memamerkan fitur-fiturnya! Hyaduh!
"Kalau ini bla bla bla..."
"Yang ini bla... bla... bla..."
"Tapi, ini kan enak, Kecil. Enteng dibawa ke mana-mana." Bersikeras dengan Sony.
"Ya udah, kalau memang itu yang dicari, yang itu aja."
"Ng... tapi ini juga bagus, yaa..."
"Huahahahaha..."
"Kalau beli ini, bisa pakai bonusnya untuk beli yang lain, Mba... bla, bla bla..." Mbak SPG ikutan menebar racun.
"Hmm... bentar, Mbak. Mikir dulu." Kutinggalkan counter sejenak.
"Iya, deh. Yang Canon!"
"Yakin, nih?"
"Iya!"
"Mbak, pake bonus cash back, bisa beli ini jadi setengah harga." SPG lain meracuniku saat aku melihat-lihat MP3 player.
"Aduuuh! Si Embak kok ikutan ngeracunin, gini, sih?"
"Mumpung ada program ini, Mbak..."
"Hmm... coba liat yang itu, deh..."
Akhirnya, lihat sana, lihat sini...
"Yang ini aja, deh."
Ternyata bulan Juni bukan hanya bulan bonus, tapi juga bulan keracunan. Aku pulang bawa kamera dan MP3 player.
Tweeeeww!
***
Kamera baru, tasnya musti yang bagusan! Aku harus lebih apik, supaya nasib Sony biru ga menimpa Mas Canon. (Jadi inget PR biola yang sampai saat ini belum juga kubisa. Canon in D major. Xixixixi...)
Untung, adikku punya tas kamera yang bagus. Empuk. Pokoknya bagus, deh. Sementara, aku pakai itu dulu. Toh, dia lagi ga punya kamera. "Suatu saat nanti, baru beli, biar ga tergantung sama orang!" tekadku.
Bulan berlalu, keenakan pake tas kamera itu. Sampai suatu hari aku berantem sama dia. Yaaa... namanya juga kakak adik. Sesekali berantem, wajar, 'kan? (Pembelaan diri, niiih!)
Tas kamera tiba-tiba diambil. Si Mas Canon tergeletak telanjang di atas lemari buku.
"Huh! Biarin aja diambil! Bisa beli ini!" teriakku kesal dalam hati.
***
"Besok ada acara?"
"Ga. Ngaji juga libur." Yaa... menjelang awal puasa, ngaji memang selalu diliburin.
"Ke Grapari, yuk!"
"Boleh! Mumpung libur, aku mo aktifin mobile banking."
Jadilah, sabtu itu ke Grapari. Tapi, ternyataaa...
"Harus registrasi dulu di ATM, nanti nomor registrasinya baru dibawa ke sini," begitu penjelasan petugas. Haaaah! Tegaaa bangeeet! Dah dibela-belain didatengin meski jauh, ternyata... sia-sia!? Padahal, mo ke Grapari lagi musti nunggu ngaji libur!!
"Huuuh! Udah, ah! Aku ga akan aktifin! Biarin aja pake cara lama. Jalan ke ATM!" sungutku.
"Trus mo ke mana?"
"Hmm... cari tas kamera, yuk!"
"Ayo. Di mana?"
"Yang deket sini, Pelangi. Ada, ga yaa...?
"Kita coba aja."
Keliling-keliling di Pelangi, ternyata yang dicari ga ada.
"Coba ke PS, yuk."
"Ayo."
Perjalanan dari mall satu ke mall lain ternyata sia-sia. Di PS maupun STC, ga ada tas yang dicari. Cape, akhirnya pulang.
"Joe, cobain ke poins, yuk!" Ini ga mengubah rute perjalanan pulang, sebab Poins ada di sebrang rumah.
"Hmm... boleh!"
Tujuan utama sudah jelas, lantai tempat beli kamera. Tapi, tepat di depan eskalator toko tas memamerkan tas kamera.
"Ini ada. Tapi, modelnya cuma satu ini? Eh... tuh di rak bawah ada. Liat dulu, yuk!"
Tas mungil dengan strip warna oranye. Lucu, sih. Tapi, kok aku masih lebih suka tas seperti milik adikku.
"Mas, tokonya tutup jam berapa?" tanyaku.
"Sebentar lagi, Mbak."
"Yaa... agak lama aja, deh. Saya mau liat ke atas dulu. Sapa tahu nanti balik ke sini."
Si mas cuma tersenyum.
Kurang sreg, akhirnya toko di atas didatangi juga. Ya! Kali ini ada hasilnya. Tas yang sama persis punya adikku ada. Dicoba-coba... tapi, kok, rasanya malah bagusan si strip oranye. Tampak lebih mungil, tapi HP bisa diselipin.
"Yang tadi aja, yuk!" putusku.
"Hahahaha..."
Kembali ke toko tadi, dari jauh tampak si Mas penjaga sedang berjongkok mengunci pintu dari luar.
"Yaaa... dah tutup!" Spontan, aku lari menghampirinya.Tapi, ternyata si Mas masuk lagi. Aku ketuk-ketuk pintu, lalu melongok ke dalam.
"Mas, dah mau pulang, ya? Kenapa ga nungguin saya? Masih boleh ga tas yang tadi?"
Si Mas cuma tersenyum. "Boleh."
"Kenapa balik lagi, mas?"
"Ada yang ketinggalan."
"Waaa... untung aja ada yang ketinggalan!" seruku senang.
Sekarang, Mas Canon sudah berbaju hitam dengan strip oranye. Si Mas ini lebih pandai dari Mas Sony biruku. Aku yang terbiasa pakai kamera asal jepret jadi, masih belum terbiasa. Dan jelas, males mempelajarinya. Sampai pernah ada komentar,
"Sebenarnya kamera ini bagus, sayang aja..."
Hihihi... aku tahu lanjutan kalimat itu.
"Sayang, pemiliknya payah!"
Biar aja, deh. Yang penting tasnya keren. ^_^
LHO!?
<2006/10/10-chik yang menanti janji teman-teman yang katanya mo ngajarin moto>