Sarung tangan, salah satu perlengkapan bersepedaku. Entah kenapa, daya tarik sarung tangan itu sangat kuat bagi Ian. Begitu melihatnya nganggur, dia pasti pinjam. Entah buat mainan tongkat-bergaya seperti jagoan kungfu-atau main sepeda juga. Kadang aku harus memaksanya mencari di rumah, karena aku mau pakai tapi si sarung tangan tak terlihat di rak.
"Udah dikembaliin, kok!"
"Mana? Kalau udah kan ada di sini. Hayo, cari dulu!"
Tak lama Ian datang dengan sarung tangan biruku.
***
Greeek! Ian membuka pintu rumahku. Ransel besar nemplok di punggung. Tampaknya siap mau pergi.
"Bulek, aku pinjem sarung tangannya, ya!"
"Mas Ian keren amaat! Mau ke mana?"
"Ke Ancol. Ke ice world. Makanya aku pinjem sarung tangan. Kan dingin. Nanti dipinjemin jaket, sih, di sana..."
"Memang ga sekalian sarung tangannya?"
"Enggak. Cuma jaket!"
"Ya udah, pake aja. Jangan sampai hilang, yaaa!"
"Iya, bereees!"
Dipakainya sarung tangan itu, lalu pulang. Tapi, tak berapa lama Ian balik. Sarung tangan dilepasnya, ditaruh di rak.
"Lho? Kok ga jadi? Ga boleh, ya?"
"Kasian, deh... ga boleh..." ledek kakakku.
Ian cuma diam. Mulutnya cemberut. Duduk di kursi, diam seribu bahasa. Wajahnya memerah. Tangannya mengusap-usap mata. Tangisnya tertahan. Segala macam pertanyaan hanya dijawab dengan gelengan dan anggukan.
"Mas Ian mau ke mana?" Ibuku yang keluar bertanya.
"Ice world?" jawabannya lirih. Tangan masih tetap mengusap-usap mata.
"Matanya kenapa, sih?" tanya Ibu. Diam.
Kucolek-colek ibu, supaya tidak menanyakan soal mata. Ibu yang belum tahu situasi, tetap bertanya soal mata.
"Hei, matanya kenapa? Belum mandi, ya?"
"Bu, Lagi nangis..." Bisikku.
"Ooo..." akhirnya pertanyaan mata pun berhenti.
Aku ajak Ian ngomong hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan sarung tangan. Akhirnya, Ian bisa menguasai diri. Masih dalam diam, berdiri lalu pulang.
Hihihihi... lucu bangeeet!!
<2006/10/30-chik>