Ian Dan Sarung Tangan « chik




Life Goes On. You've got to be tough to win. In Learning you will teach and in teaching you will learn.


Au nom d'Allah. Le Tout Misèricordieux, Le Tres Miséricordieux



Soredewa, antagata wa Ou no onkei no dore wo uso to iunoka?

Lequel donc des bienfaits de votre seigneur nierez-vous? (QS: Ar-Rahman: 18)


Glorifie le nom de ton Seigneur, le Très Haut. Celui Qui a crée et agencé harmonieusement.

Shikou no okata, anata no ou no gyomei ni oite. karewa souzoshi, totonoe chouwa saseru okata. (QS 87: 1-2)


Allah ga ningen ni ataerareru donna jihi mo habamareru koto wa nai. Mata Kare ga habamu nanigoto mo, sore wo tokihanasu mono wa nai. Hontouni Kare wa Iryoku Narabinaku Eimei de arareru.

Ce qu'Allah accorde en miséricorde aux gens, il n'est personne à pouvoir le retenir. Et ce qu'Il retient, il n'est personne à le relâcher après Lui. Et c'est Lui le Puissant, le Sage.

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS 35:2)



Art:©Hadi

   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31







Ngintip punya:



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, October 30, 2006
Ian Dan Sarung Tangan

Sarung tangan, salah satu perlengkapan bersepedaku. Entah kenapa, daya tarik sarung tangan itu sangat kuat bagi Ian. Begitu melihatnya nganggur, dia pasti pinjam. Entah buat mainan tongkat-bergaya seperti jagoan kungfu-atau main sepeda juga. Kadang aku harus memaksanya mencari di rumah, karena aku mau pakai tapi si sarung tangan tak terlihat di rak.
"Udah dikembaliin, kok!"
"Mana? Kalau udah kan ada di sini. Hayo, cari dulu!"
Tak lama Ian datang dengan sarung tangan biruku.

***
Greeek!
Ian membuka pintu rumahku. Ransel besar nemplok di punggung. Tampaknya siap mau pergi.
"Bulek, aku pinjem sarung tangannya, ya!"
"Mas Ian keren amaat! Mau ke mana?"
"Ke Ancol. Ke ice world. Makanya aku pinjem sarung tangan. Kan dingin. Nanti dipinjemin jaket, sih, di sana..."
"Memang ga sekalian sarung tangannya?"
"Enggak. Cuma jaket!"
"Ya udah, pake aja. Jangan sampai hilang, yaaa!"
"Iya, bereees!"

Dipakainya sarung tangan itu, lalu pulang. Tapi, tak berapa lama Ian balik. Sarung tangan dilepasnya, ditaruh di rak.
"Lho? Kok ga jadi? Ga boleh, ya?"
"Kasian, deh... ga boleh..." ledek kakakku.
Ian cuma diam. Mulutnya cemberut. Duduk di kursi, diam seribu bahasa. Wajahnya memerah. Tangannya mengusap-usap mata. Tangisnya tertahan. Segala macam pertanyaan hanya dijawab dengan gelengan dan anggukan.

"Mas Ian mau ke mana?" Ibuku yang keluar bertanya.
"Ice world?" jawabannya lirih. Tangan masih tetap mengusap-usap mata.
"Matanya kenapa, sih?" tanya Ibu. Diam.
Kucolek-colek ibu, supaya tidak menanyakan soal mata. Ibu yang belum tahu situasi, tetap bertanya soal mata.
"Hei, matanya kenapa? Belum mandi, ya?"

"Bu, Lagi nangis..." Bisikku.
"Ooo..." akhirnya pertanyaan mata pun berhenti.
Aku ajak Ian ngomong hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan sarung tangan. Akhirnya, Ian bisa menguasai diri. Masih dalam diam, berdiri lalu pulang.

Hihihihi... lucu bangeeet!!

<2006/10/30-chik>


Posted at 09:33 am by chik

tari
November 1, 2006   03:05 PM PST
 
eh, sepuluh tahun lagi, blog ini masih bisa dibaca, nggak? Jadi mbayangin reaksi perjaka satu itu kalo baca cerita manis ini...
Nita
October 30, 2006   10:17 AM PST
 
berarti klo ultah kadonya ketauan dia maunya, sarung tanagn bekas kamu hihi
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry