|
"Buleeek, aku mau belajar kamus visual, dong!" "Ayo, Bulek... ambilin kamus visual..." "Nanti, ya... kan Bulek lagi makan. Sabar, yaaa..." "Yaaah... aku mau sekarang... ayo, dong, Bulek..." "Ade, sini... denger. Bulek sedang apa?" "Makan." "Jadi, Ade harus belajar sabar. Tunggu dulu, ya. Sini, duduk yang manis."
***
"Bulek, aku mau liat sains!" akhirnya Tristan berhasil mengucapkan sains, setelah berkali-kali selalu bilang sanis. "Yang mata rusak, Bulek..." Kubuha halaman kamus sesuai keinginannya. "Ini miopi...kalau bayangan jatuh di depan retina, berarti mata rusak..." ocehnya meniru seperti apa yang kejelaskan sebelumnya.
"De, nyannyi dulu, dong..." selaku. Dah lama ga dengar dia nyanyi. Cuek, Tristan masih buka-buka kamus. "Ade, kalau diajak ngomong denger, dong. Ayo. nyanyi dulu.." Masih cuek. "Adee... nyanyi, dooong..." "Sabar, Bulek, sabar... Bulek, niiih... sabaaar..." Haaah!?
Beberapa menit berlalu. "Bulek, sekarang aku mau liat kemasyarakatan!" "Ga, ah! Nyanyi dulu. Kalau ga, Bulek ga mau bukain." "Yaaah... Bulek..." "Nyanyi dulu..." Lalu, "Izinkan aku membuktikan inilah kesungguhan rasa. Izinkan aku menyangiiimuu... Sayangku... ooooo, dengarkanlah... isi hatiku... Cintaku... oooo... dengarkalanlah isi haatikuuu ..." Suranya melengking. Urat lehernya sampai mengeras.
<2006/06/02-chik>
|