Entry: Bengkel cuci sepeda Tuesday, August 15, 2006



Sepulang kondangan nyepeda minggu kemarin (lihat Velobleu), aku ikut rombongan ke formula. Sepeda Inu mo ganti rante. Kalo dah hobi memang susah menahan diri, kali yaaa... ternyata yang sepedanya diutak-atik ga cuma Inu. Joe ikutan ganti rem, Nir ma Iie ganti sadel... Kang Supri, mbantuin masangin rem ke sepeda Iie. Tinggal aku dan Bayu yang duduk manis menunggu, sampe bete karena bosen!

Sekitar Jam 5, akhirnya semua selesai. Pulang! Haah... itu yang kutunggu dari tadi. Cape sehabis nyepeda siang bolong! Di tengah jalan, satu per satu misah. Iie memisahkan diri duluan. Nir, Inu, Kang Supri dan Bayu, belok ke arah rempoa, sementara aku dan Joe lurus.

Sampe di rumah, Anto sedang nyuci motor.
"Asyiiiik! To, sekalian nitip nyuci sepedaaaa!" teriakku gembira.
"Dah sore, ah! Besok aja!" memang sih, saat itu sudah jam 17.30.
"Yaaah... nanggung. Sekalian aja, deh..."
"Tau gini, tadi ga nyuci, deh!" Anto ngedumel.
"Mau ga?"
"Ya udah, sini!"

Baru juga sepeda disiram, Ian muncul dari rumahnya. Telanjang dada. Tampaknya, seharusnya dia mandi... tapi malah kabur keluar.

"Kok ga pake baju? Mas bantuin Om Anto nyuci motor, tuh!"
"Boleh!?"
"Eh, cuciin sepeda Bulek juga boleh."
"Sini! Sini! Aku cuciin! Tapi bayar, ya! 5.000!"
"Iya, deh!"

Ian pun mulai menyemprotkan air ke sepedaku.
Eyangnya yang menyusul keluar senyum-senyum mendengar nego itu. Gak lama, ibu dan bapaknya pulang dari entah ke mana.
"Bu Aning, aku nyuciin sepeda Bulek Nining, dibayar 5000!"
"Boleh nyuci sepedaku juga?" tanya Ian ke bapaknya.
"Nyuci sepeda bulek dulu, Mas... baru sepeda sendiri!"
"Iya, nyuci punya Bulek dulu, tuh..." kata ibunya.
"Iya! Beres, deh"

Dibantu Reza, sepupunya, Ian mengeluarkan sepedanya. Lalu, keduanya mulai mencuci sepeda biruku.
"Ng... Bulek, ongkosnya jadi 6.000 deh. Kan berdua!"
"Iya, boleh. Tapi yang bersih, lho! Kalau ga bersih, dipotong 500!"
"Beres!"

"Bulek, jadi basah! Sana... biar aku aja!" usir Ian, waktu aku bantu megang selang air.
"Iya, deh...Bulek nonton aja! Seneng, deh, punya keponakan baik begini!"
"Ian, aku yang sebelah sini, kamu di sana!" Reza mbagi tugas.
"Yah, kok ga ilang?" Reza sibuk menggosok rak sepeda.
"kenapa? Coba lihat!?"
"Yaa... pokoknya kalau ga bersih, potong 500."
"Bersih, deh!" Keduanya lalu menggosok lagi dengan semangat.

"Habis ini, aku bantuin nyuci sepeda Ian, dapet 3.000 lagi, deh!" gumam Reza.
"Hahahaha...berarti, Mas Ian ga dapat apa-apa, doong!"
"Reza pinter!"
"Ga! Aku nyuci sendiri aja!"

Gosok sana sikat sini, akhirnya sepedaku bersih. Giliran sepeda Ian.
"Dah, Bulek, Mana bayarannya?"
"Iya, iya... Bulek bayar, Bulek ga akan kabur? Sabar, dooong!"
"Cuci aja dulu sepeda Mas Ian."
"Udah aja, deh! Segini aja!" nyuci sepeda sendiri, Ian asal-asalan.

"Nih, Mas. 6.000, yaa!"
"Asyiiik! Makasih, ya Bulek!"
Si Bapak cuma ketawa-ketawa liat Ian gembira dapat honor nyuci sepeda.
"Seneng, deh, bisnis sama Mas Ian dan Reza. Buka bengkel cucinya tiap hari Minggu, ya!" teriakku waktu Ian masuk ke rumahnya.

<2006/08/14-chik>

   2 comments

harunjo
October 31, 2006   06:49 PM PST
 
sepeda memang kendaraan ramah lingkungan yang menjadi andalan untuk mengurangi polusi di negara2 maju, saluut!
http://www.b2w-indonesia.or.id
nita
August 18, 2006   11:04 AM PDT
 
waduh ning, coba Ian ada di Jepang, terima nyuci gelas-gelas lab nggak ya dia? hihi...

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments